Written by 7:58 am Inspirasi • 2 Comments

Tari Baluse, Tari Perang Suku Nias yang Legendaris

Tari Baluse, Tari Perang Suku Nias yang Legendaris

Indonesia adalah tempat dari budaya yang berbeda, masing-masing dengan seni dan tradisi yang unik. Tarian disertakan. Tarian yang bermakna datang dalam berbagai bentuk dan gaya. Nias Selatan, Sumatera Utara adalah asal dari tarian Baluse, tarian perang tradisional asal suku nias.

Makna Dari Tarian

Tarian ini melambangkan semangat seorang pemuda yang menghadapi bahaya di medan perang dengan penuh percaya diri dan keberanian di jaman dulu.

Tari Baluse masih umum dipentaskan hingga saat ini, namun tujuan awalnya—untuk menunjukkan semangat juang dan keberanian pemuda Nias—telah digantikan oleh penggunaan tarian yang lebih umum sebagai sarana penyambutan tamu. Tari Fataele adalah nama lain dari tarian ini.

Baluse merupakan salah satu alat yang digunakan dalam tarian, dalam penggunaanya merupakan sebagai tameng perang. Yang dapat melindungi penggunanya dari ujung kepala hingga tumit. Warna dari kelururuhan dari Baluse adalah rona coklat tua dan menyerupai daun pisang. Dalam Tari Baluse tradisional, Baluse merupakan unsur terpenting.

Permulaan Tari Balet Baluse didasarkan pada legenda tentang perjuangan nenek moyang dari suku Nias lalu di masa lalu. Apalagi, tarian ini konon merupakan perwujudan dari tradisi budaya Nias yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Busana dan Perlengkapan Tari Baluse

Selain itu tarian ini memiliki beberapa properti yang dibutuhkan, yaitu:

Baluse

Sebagai tameng perang, Baluse merupakan salah satu item penting dalam tarian ini.

Toho

Tombak atau Toho ini, berukuran panjang sekitar dua meter, secara tradisional digunakan dalam pertempuran. Baluse dipegang di depan badan dengan tangan kiri, sedangkan toho dipegang di kanan.

Pedang Tologu

Pedang ini sering digunakan dalam pertempuran melawan musuh di masa lalu.
Bilah ini sedikit berbeda dari norma karena juga dipuja sebagai jimat dengan kekuatan untuk memberikan kekuatan manusia super, keberanian, kekebalan, dan manfaat lainnya kepada penggunanya.

Dikutip dari merdeka.com Niohosana, dewa perang dalam agama Nias kuno, diukir di ujung Tologu. Panjangnya sekitar 60 sentimeter, senjata ini terbilang kompak.

Ujung sarung pedang dihiasi dengan fosil gigi hiu, taring buaya, atau taring babi hutan di ujungnya. Sarung dibuat dari dua bilah kayu yang diperkuat dengan pelat logam biasanya besi atau kuningan.

Topi Perang

Laki-laki diharapkan untuk berpartisipasi dalam Tari Baluse sambil mengenakan mahkota atau topi tempur. Topi Perang ini sering dihiasi dengan perhiasan besar yang terbuat dari besi atau tanduk, yang diuraikan dalam bentuk pohon kehidupan.

Pakaian

Pakaian dari Penari Baluse adalah kaleidoskop warna, dari kuning dan merah hingga hitam dan putih. Untuk perlindungan Pakaian Perang mengenakan romi pertempuran bagian luar. Celana berwarna hitam dan merah dan turun ke lutut.

Gerakan dari Tarian

Dalam tarian tradisional ini, sekelompok pria yang memerankan seorang pejuang dalam pertempuran atau prajurit perang.

Gerakannya dimulai dengan gerakan kaki yang maju mundur sambil menghentakkanya ke tanah sembari diiringi dengan kegagahan dan keberanian dalam perang, seolah-olah penari sedang memerankan seorang prajurit di medan perang.

Menghentakkan kaki berulang kali sambil membuat suara yang menyemangati adalah langkah pertama dalam tindakan ini. Ini dilakukan untuk meningkatkan semangat, seperti dalam perang nyata.

Nah demikian informasi tentang Tari Baluse, baca terus Sharing Medium platform yang menjadi tempat postingan dan berbagi artikel menarik.

(Visited 203 times, 1 visits today)

Last modified: January 14, 2023

Close